Begitu juga dengan Asma Nadia. Saat kuliah, ia harus menghadapi lima penyakit sekaligus. Cerpen-cerpennya pun sering diremehkan. Namun rasa minder tidak membuatnya berhenti. Justru kritik dan penolakan dijadikannya bahan bakar untuk terus belajar. Kini ia telah menghasilkan puluhan buku dan mendirikan penerbitannya sendiri.
Kalau kita melihat perjalanan penulis dunia, kisah penolakan juga bukan hal baru. J.K. Rowling ditolak oleh 12 penerbit. Stephen King menerima lebih dari 30 penolakan untuk novel Carrie, bahkan naskahnya sempat dibuang ke tempat sampah. Octavia E. Butler juga mengalami penolakan bertahun-tahun sebelum akhirnya diakui sebagai salah satu penulis paling berpengaruh.
Bayangkan jika mereka menyerah di tengah jalan. Mungkin dunia tidak akan mengenal Harry Potter atau karya-karya besar lainnya.
Masalah terbesar manusia sebenarnya bukan kurang mimpi, tetapi kurang konsisten menjaga semangat. Di awal, niat terasa menggebu-gebu. Namun perlahan memudar karena tidak dirawat dengan tindakan nyata.
