Suryadi dan Matinya Lapak Koran Part 2

Suryadi masih seperti dulu. Topi lusuh itu masih setia menutupi kepalanya. Kaos berkerah yang dikenakannya mungkin sudah berganti beberapa kali, tetapi senyum ramahnya tetap sama. Ia masih menyapa setiap orang yang datang dengan nada suara yang hangat, seolah hidup tak pernah benar-benar mengalahkannya.

Bedanya, kini ia bukan lagi penjual koran.

Tangannya yang dahulu sibuk merapikan tumpukan surat kabar, majalah, dan buku-buku bekas, kini lebih sering memegang palu kecil, lem, benang nilon, dan jarum besar untuk menjahit sol sepatu yang rusak.

Saya kembali menemuinya. Cerita yang pernah ia kisahkan beberapa tahun lalu ternyata belum benar-benar selesai.

Lapak korannya telah lama gulung tikar.

Tidak ada lagi orang yang rela berhenti hanya untuk membeli koran pagi. Tidak banyak yang mencari majalah mingguan. Buku-buku bekas yang dulu menjadi incaran mahasiswa pun semakin lama semakin sepi peminat.

Akhirnya, seperti banyak orang kecil lainnya, Suryadi memilih bertahan dengan pekerjaan baru: menjadi tukang sol sepatu.

Seandainya Saya Seorang Wartawan

Refleksi Literasi dan Pendidikan

Pernah terbesit dalam pikiran saya untuk bercita-cita menjadi wartawan atau jurnalis. Namun lebih dari sekadar profesi, dunia kewartawanan bagi saya adalah ruang belajar literasi yang membentuk cara berpikir, cara membaca realitas, dan cara menulis gagasan secara bertanggung jawab. Wartawan—yang bekerja secara profesional dan independen—memiliki peran penting sebagai kontrol sosial, sekaligus pendidik publik melalui informasi yang disampaikan.

Kesadaran literasi itu tumbuh sejak saya membiasakan diri membaca koran, baik lokal maupun nasional. Koran bukan sekadar penyampai berita, melainkan media pembelajaran yang hidup. Dari sana, saya belajar membaca cepat, memilah informasi penting, memahami sudut pandang, hingga membedakan fakta dan opini. Berbeda dengan buku yang kadang menuntut konsentrasi panjang, koran justru melatih konsistensi membaca harian—sebuah kebiasaan literasi yang sederhana namun berdampak.

Melalui berbagai rubrik di koran, saya menemukan pendidikan literasi yang utuh: ada pengetahuan, hiburan, nilai, dan pembentukan nalar kritis. Halaman esai dan opini mengajarkan saya bagaimana gagasan dirangkai dengan argumentasi yang logis dan bahasa yang terukur. Sementara tulisan feature menghadirkan fakta dalam bentuk cerita yang humanis—mendidik pembaca untuk berempati dan memahami realitas sosial secara lebih dalam. Sayangnya, tidak semua media memberi ruang cukup pada jenis tulisan edukatif seperti ini.

Follow by Email
Instagram
Telegram
WhatsApp
FbMessenger
URL has been copied successfully!