
Suryadi masih seperti dulu. Topi lusuh itu masih setia menutupi kepalanya. Kaos berkerah yang dikenakannya mungkin sudah berganti beberapa kali, tetapi senyum ramahnya tetap sama. Ia masih menyapa setiap orang yang datang dengan nada suara yang hangat, seolah hidup tak pernah benar-benar mengalahkannya.
Bedanya, kini ia bukan lagi penjual koran.
Tangannya yang dahulu sibuk merapikan tumpukan surat kabar, majalah, dan buku-buku bekas, kini lebih sering memegang palu kecil, lem, benang nilon, dan jarum besar untuk menjahit sol sepatu yang rusak.
Saya kembali menemuinya. Cerita yang pernah ia kisahkan beberapa tahun lalu ternyata belum benar-benar selesai.
Lapak korannya telah lama gulung tikar.
Tidak ada lagi orang yang rela berhenti hanya untuk membeli koran pagi. Tidak banyak yang mencari majalah mingguan. Buku-buku bekas yang dulu menjadi incaran mahasiswa pun semakin lama semakin sepi peminat.
Akhirnya, seperti banyak orang kecil lainnya, Suryadi memilih bertahan dengan pekerjaan baru: menjadi tukang sol sepatu.

