
Hari itu matahari bersinar begitu terik. Jarum jam baru menunjukkan pukul 09.00 WIB. Di seberang jalan Gedung Matahari lama, tepat di kawasan pusat Kota Cilegon yang hampir tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki, berdiri sebuah lapak koran sederhana di emperan toko milik warga keturunan Tionghoa. Dari kejauhan, deretan koran harian, majalah, tabloid, hingga buku teka-teki silang tergantung rapi. Sesekali angin meniup lembaran-lembaran koran hingga berkibar pelan, seolah memanggil siapa saja yang lewat untuk berhenti dan membaca.
Tempat itu mungkin terlihat biasa bagi orang yang hanya melintas. Namun bagi saya, lapak kecil di seberang Gedung Matahari lama adalah surga bagi para pemburu bacaan. Di tengah hiruk-pikuk Kota Cilegon, di situlah saya menemukan banyak gagasan, mengenal berbagai penulis, dan diam-diam memupuk mimpi suatu hari nanti tulisan saya juga bisa terbit di surat kabar.
Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 2011, jauh sebelum pandemi Covid-19 mengubah banyak kebiasaan manusia.
