Suryadi dan Matinya Lapak Koran Part 1

Perasaan menghargai karya orang lain juga selalu muncul setiap kali saya membeli koran. Harganya bahkan tidak lebih mahal daripada secangkir kopi di warung. Namun di balik setiap lembar koran, ada kerja keras banyak orang yang sering luput dari perhatian. Ada wartawan yang berpanas-panasan mengejar narasumber, ada jurnalis yang harus menulis di bawah tekanan tenggat waktu, ada editor yang memeriksa setiap kalimat hingga larut malam, dan ada pekerja percetakan yang bekerja ketika sebagian besar orang telah tertidur.

Kini semuanya perlahan berubah.

Media digital berkembang begitu pesat. Berita hadir dalam hitungan detik melalui telepon genggam. Orang-orang tidak lagi menunggu koran terbit keesokan pagi. Kebiasaan membaca pun ikut bergeser.

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat.

Hari ini sudah memasuki tahun 2026. Rasanya baru kemarin saya berdiri di depan lapak Kang Suryadi, memilih koran yang ingin saya beli sambil mengobrol tentang buku-buku baru. Namun kenyataannya, lima belas tahun telah berlalu tanpa saya sadari. Waktu bergerak begitu cepat hingga banyak hal berubah, bahkan tanpa sempat kita ucapkan selamat tinggal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow by Email
Instagram
Telegram
WhatsApp
FbMessenger
URL has been copied successfully!