Suryadi dan Matinya Lapak Koran Part 1

Hari itu matahari bersinar begitu terik. Jarum jam baru menunjukkan pukul 09.00 WIB. Di seberang jalan Gedung Matahari lama, tepat di kawasan pusat Kota Cilegon yang hampir tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki, berdiri sebuah lapak koran sederhana di emperan toko milik warga keturunan Tionghoa. Dari kejauhan, deretan koran harian, majalah, tabloid, hingga buku teka-teki silang tergantung rapi. Sesekali angin meniup lembaran-lembaran koran hingga berkibar pelan, seolah memanggil siapa saja yang lewat untuk berhenti dan membaca.

Tempat itu mungkin terlihat biasa bagi orang yang hanya melintas. Namun bagi saya, lapak kecil di seberang Gedung Matahari lama adalah surga bagi para pemburu bacaan. Di tengah hiruk-pikuk Kota Cilegon, di situlah saya menemukan banyak gagasan, mengenal berbagai penulis, dan diam-diam memupuk mimpi suatu hari nanti tulisan saya juga bisa terbit di surat kabar.

Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 2011, jauh sebelum pandemi Covid-19 mengubah banyak kebiasaan manusia.

Seandainya Saya Seorang Wartawan

Refleksi Literasi dan Pendidikan

Pernah terbesit dalam pikiran saya untuk bercita-cita menjadi wartawan atau jurnalis. Namun lebih dari sekadar profesi, dunia kewartawanan bagi saya adalah ruang belajar literasi yang membentuk cara berpikir, cara membaca realitas, dan cara menulis gagasan secara bertanggung jawab. Wartawan—yang bekerja secara profesional dan independen—memiliki peran penting sebagai kontrol sosial, sekaligus pendidik publik melalui informasi yang disampaikan.

Kesadaran literasi itu tumbuh sejak saya membiasakan diri membaca koran, baik lokal maupun nasional. Koran bukan sekadar penyampai berita, melainkan media pembelajaran yang hidup. Dari sana, saya belajar membaca cepat, memilah informasi penting, memahami sudut pandang, hingga membedakan fakta dan opini. Berbeda dengan buku yang kadang menuntut konsentrasi panjang, koran justru melatih konsistensi membaca harian—sebuah kebiasaan literasi yang sederhana namun berdampak.

Melalui berbagai rubrik di koran, saya menemukan pendidikan literasi yang utuh: ada pengetahuan, hiburan, nilai, dan pembentukan nalar kritis. Halaman esai dan opini mengajarkan saya bagaimana gagasan dirangkai dengan argumentasi yang logis dan bahasa yang terukur. Sementara tulisan feature menghadirkan fakta dalam bentuk cerita yang humanis—mendidik pembaca untuk berempati dan memahami realitas sosial secara lebih dalam. Sayangnya, tidak semua media memberi ruang cukup pada jenis tulisan edukatif seperti ini.

Follow by Email
Instagram
Telegram
WhatsApp
FbMessenger
URL has been copied successfully!