Orang Asing

Kita tidak bisa terlalu sombong dalam menjalani hidup. Sebab sering kali penghargaan, sapaan, dan perhatian yang kita terima datang karena orang lain mengenal kita, meskipun mungkin belum pernah bertemu secara langsung.

Coba bayangkan ketika kita berada di sebuah tempat umum—mal, masjid, taman, atau kota yang belum pernah kita kunjungi. Tidak ada yang mengenal kita, tidak ada yang menyapa, apalagi mengajak berbincang. Rasanya asing. Ada semacam kehampaan yang sulit dijelaskan.

Saat itulah kita sadar bahwa sebenarnya kita bukanlah siapa-siapa. Pengakuan yang selama ini kita rasakan sering kali lahir dari hubungan yang telah kita bangun dengan orang lain. Karena itu, tidak mengherankan jika seseorang merasa senang ketika datang ke suatu tempat lalu ada yang menyapa, menjabat tangan, atau sekadar mengajak minum kopi bersama. Kehangatan sederhana seperti itu mampu membuat suasana menjadi lebih hidup.

Tentu, setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda. Ada yang merasa nyaman menyendiri dan menikmati kesunyian. Namun, bukankah sesekali kita juga bahagia ketika bertemu seseorang yang berharga dalam hidup kita? Seseorang yang kehadirannya mampu membuat hari terasa lebih bermakna.

Menemukan “Jodoh” dalam Dunia Literasi

literasi, tips menulis, motivasi menulis

Bagaimanapun, yang namanya jodoh pada akhirnya akan bertemu. Hanya saja, proses mencari dan menemukannya sering kali tidak mudah.

Jodoh di sini bukan hanya soal pasangan atau kekasih. Maknanya jauh lebih luas. Bisa tentang bisnis, pertemanan, sekolah, kampus, profesi, bahkan buku dan lingkungan yang tepat untuk bertumbuh. Sebab, tidak semua hal cocok untuk semua orang. Ketika seseorang berada di tempat yang tepat dan bertemu orang-orang yang tepat, proses berkembang biasanya terasa lebih maksimal.

Saya merasakan hal itu saat mulai menyukai dunia menulis.

Tidak semua orang bisa memahami mengapa seseorang rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk merangkai kata, memperbaiki paragraf, atau memikirkan satu kalimat agar terasa lebih hidup. Bukan karena mereka salah. Hanya saja minat setiap orang memang berbeda.

Orang yang mencintai dunia literasi biasanya lebih mudah memahami perjuangan seorang penulis. Mereka tahu bahwa menulis bukan sekadar menyusun kata-kata, tetapi tentang menyampaikan gagasan, pengalaman, bahkan sebagian isi pikiran kepada orang lain.

Rahasia Judul Buku Biar Menarik Pembaca

Foto bersama dengan pemateri S. Shinta dari Noura Publishing

Festival Literasi Cilegon 2026: Rahasia Naskah Diterima Penerbit Mayor Dibongkar Langsung oleh Editor Noura Publishing

Momen paling berharga hadir dalam rangkaian Festival Literasi 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cilegon dalam rangka HUT DPK ke-19. Kegiatan yang berlangsung sejak 19 hingga 21 Mei 2026 ini berlangsung sangat meriah dan dipenuhi antusiasme masyarakat.

Berbagai acara menarik digelar secara gratis untuk umum, mulai dari bedah buku, talk show, pelatihan menulis, pelatihan mendongeng, senam bersama, hingga bazar literasi. Festival ini menjadi ruang berkumpulnya pegiat literasi, penulis, pembaca, hingga komunitas baca dari berbagai kalangan.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah talk show bertema “Rahasia Naskah Diterima oleh Penerbit Mayor” bersama S. Shinta selaku editor Noura Publishing dengan moderator Vieka.

Foto bersama dengan peserta talk show festival literasi

Dalam sesi tersebut, Ibu Shinta membagikan banyak wawasan penting tentang dunia penerbitan. Ia menegaskan bahwa perpustakaan, komunitas baca, dan pegiat literasi merupakan partner penting bagi penerbit. Tanpa mereka, ekosistem literasi tidak akan berkembang.

Seandainya Saya Seorang Wartawan

Refleksi Literasi dan Pendidikan

Pernah terbesit dalam pikiran saya untuk bercita-cita menjadi wartawan atau jurnalis. Namun lebih dari sekadar profesi, dunia kewartawanan bagi saya adalah ruang belajar literasi yang membentuk cara berpikir, cara membaca realitas, dan cara menulis gagasan secara bertanggung jawab. Wartawan—yang bekerja secara profesional dan independen—memiliki peran penting sebagai kontrol sosial, sekaligus pendidik publik melalui informasi yang disampaikan.

Kesadaran literasi itu tumbuh sejak saya membiasakan diri membaca koran, baik lokal maupun nasional. Koran bukan sekadar penyampai berita, melainkan media pembelajaran yang hidup. Dari sana, saya belajar membaca cepat, memilah informasi penting, memahami sudut pandang, hingga membedakan fakta dan opini. Berbeda dengan buku yang kadang menuntut konsentrasi panjang, koran justru melatih konsistensi membaca harian—sebuah kebiasaan literasi yang sederhana namun berdampak.

Melalui berbagai rubrik di koran, saya menemukan pendidikan literasi yang utuh: ada pengetahuan, hiburan, nilai, dan pembentukan nalar kritis. Halaman esai dan opini mengajarkan saya bagaimana gagasan dirangkai dengan argumentasi yang logis dan bahasa yang terukur. Sementara tulisan feature menghadirkan fakta dalam bentuk cerita yang humanis—mendidik pembaca untuk berempati dan memahami realitas sosial secara lebih dalam. Sayangnya, tidak semua media memberi ruang cukup pada jenis tulisan edukatif seperti ini.

Untuk Apa Sebuah Proses?

Saat kita dilahirkan pertama kali kedunia apa yang kita miliki, bajupun tak punya, apalagi uang, harta dan yang lainnya. Kita berawal hanya bisa menangis sampai akhirnya pertama kali disusui oleh seorang ibu yang baik hati. Meski kita tak dapat berbicara, tak dapat meminta, namun apa yang seorang bayi inginkan akan datang sendirinya.

Itulah salah satu sifat Allah yang maha Rahim yang ditipkan melalui ibu.Bagaimana kita memahami seorang anak dari lahir, menangis, menyusu, menegok, menggerakkan tangan dan kakinya, merangkak, berjalan sampai bisa berlari. Terus dan terus tumbuh semakin besar. Tetapi hal itu tak bisa secepat yang kita inginkan. Semua butuh proses. dari hari kehari, bulan ke bulan sampai tahun ke tahun.

Semua itu butuh kesabaran termasuk menahan omongan orang lain ketika belum menikah timbul pertayaan kapan menikah, dan setelah menikah timbul pertayaan kapan punya anak, dan seterusnya. Semua pasti ada ujiannya dan terus akan diuji.Anak sebagai titipan dan amanah. Tidak mudah untuk melewati itu semua karena butuh proses yang panjang.

Waktu Cepat Berlalu

Waktu memang singkat, bila kau tak memanfaatkan dengan sebaik mungkin maka kau akan termakan olehnya. Banyak sesuatu yang akan hilang dan tanpa disadari penyesalan akan ada dikemudian. Pada masa kanak-kanak memang tak memiliki banyak uang, tetapi memiliki banyak waktu. Saat masa muda atau remaja, uang sudah mulai cukup, waktu banyak dan tenaga masih kuat. Ketika sudah tua, meskipun uang banyak tetapi waktu dan tenaga sudah terbatasi.

Maka setiap usia maupun masa seseorang ada kesempatan, waktu maupun uang yang berbeda-beda Namun disini yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan semua situasi dan kesempatan tersebut dengan sebaik mungkin. Karena satu detikpun waktu yang telah berlalu tak akan kembali dan terulang kembali.

Maka selama masih bernafas, bersyukurlah, karena masih banyak kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan, masih ada kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki diri ataupun menyusun rencana dan melakukan tindakan sesuai rencana maupun tujuan hidup yang kita impikan.

Terlebih ketika mengalami kegagalan dalam menuju impian ataupun tujuan. Teruslah gunakan waktu dan jangan siak-siakan sedetikpun bila kita ingin sukses. Tak perlu bercerita tentang seberapa banyak saat pernah gagal, tetapi cukup menunjukkan saat sukses saja.

Seberat Apapun Masalahmu

Bagaimana bila kita merasa memiliki beban pekerjaan dan masalah yang besar? Banyak orang yang tak sanggup untuk memikulnya. Banyak pula orang yang dapat melewatinya dengan sabar. Untuk apa masalah atau cobaan itu datang pada kita Melainkan agar kita menjadi lebih kuat dan tegar.

Menjadi terbiasa dengan masalah dan penyelesaiannya. Apalagi masalah itu bukan semata-mata hanya untuk menyusahkan kita.Allah telah merencanakan segala sesuatu untuk kita adalah hal yang terbaik, Maka demikianlah setiap permasalahan dan beban yang kita hadapi hendaknya selalu melibatkan Allah.

Tiada sesuatu halpun terjadi didunia ini kecuali atas izinNya. Allah berkehendak memabngkitkan manusia yang telah wafat nanti. Apalagi hanya mengangkat dan menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Berusaha tetap bekerja dan menjalankan hal yang semestinya kita lakukan dan terus bertawaqalalalloh.Sebagaiman setelah gelap akan ada terang, setelah hujan akan reda.

Saat sekolah saja ada berbagai ujian. Dan apa sebenarnya tujuan sebuah ujian atau test tersebut. Yakni adalah untuk naik kelas atau menempati tempat atau hal yang lebih tinggi.Begitu pula kita saat manusia diuji, atau mendapat cobaan yang berat dalam hidup adalah juga untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia itu sendiri.Dimanapun yang namanya ujian adalah untuk menaikkan level ketingkat yang paling tinggi.

Follow by Email
Instagram
Telegram
WhatsApp
FbMessenger
URL has been copied successfully!