Suryadi dan Matinya Lapak Koran Part 1

Yang membuat saya tertegun adalah kenyataan bahwa perubahan itu terjadi begitu pelan hingga saya tidak menyadarinya. Seolah-olah baru kemarin saya membeli koran darinya, padahal hari ini saya justru menemukannya dengan profesi yang berbeda.

Mungkin begitulah hidup.

Waktu tidak pernah meminta izin sebelum mengubah keadaan. Ia berjalan tanpa suara, membawa perubahan pada tempat, kebiasaan, dan manusia. Ada lapak koran yang hilang, ada kebiasaan membaca yang memudar, dan ada orang-orang yang harus beradaptasi agar tetap bisa menyambung hidup.

Esok harinya saya berjanji akan kembali.

Bukan untuk membeli koran, karena koran itu sudah tidak ada lagi.

Melainkan untuk menyapa Kang Suryadi, mengucapkan terima kasih atas lapak kecilnya yang dahulu telah menjadi ruang belajar bagi seorang anak muda yang bermimpi menjadi penulis.

Sebab boleh jadi, tanpa pernah disadari, ia bukan hanya menjual koran.

Ia juga ikut menumbuhkan mimpi banyak orang yang datang mencari ilmu di balik setiap lembar berita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow by Email
Instagram
Telegram
WhatsApp
FbMessenger
URL has been copied successfully!