Suryadi dan Matinya Lapak Koran Part 2

Suryadi masih seperti dulu. Topi lusuh itu masih setia menutupi kepalanya. Kaos berkerah yang dikenakannya mungkin sudah berganti beberapa kali, tetapi senyum ramahnya tetap sama. Ia masih menyapa setiap orang yang datang dengan nada suara yang hangat, seolah hidup tak pernah benar-benar mengalahkannya.

Bedanya, kini ia bukan lagi penjual koran.

Tangannya yang dahulu sibuk merapikan tumpukan surat kabar, majalah, dan buku-buku bekas, kini lebih sering memegang palu kecil, lem, benang nilon, dan jarum besar untuk menjahit sol sepatu yang rusak.

Saya kembali menemuinya. Cerita yang pernah ia kisahkan beberapa tahun lalu ternyata belum benar-benar selesai.

Lapak korannya telah lama gulung tikar.

Tidak ada lagi orang yang rela berhenti hanya untuk membeli koran pagi. Tidak banyak yang mencari majalah mingguan. Buku-buku bekas yang dulu menjadi incaran mahasiswa pun semakin lama semakin sepi peminat.

Akhirnya, seperti banyak orang kecil lainnya, Suryadi memilih bertahan dengan pekerjaan baru: menjadi tukang sol sepatu.

Suryadi dan Matinya Lapak Koran Part 1

Hari itu matahari bersinar begitu terik. Jarum jam baru menunjukkan pukul 09.00 WIB. Di seberang jalan Gedung Matahari lama, tepat di kawasan pusat Kota Cilegon yang hampir tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki, berdiri sebuah lapak koran sederhana di emperan toko milik warga keturunan Tionghoa. Dari kejauhan, deretan koran harian, majalah, tabloid, hingga buku teka-teki silang tergantung rapi. Sesekali angin meniup lembaran-lembaran koran hingga berkibar pelan, seolah memanggil siapa saja yang lewat untuk berhenti dan membaca.

Tempat itu mungkin terlihat biasa bagi orang yang hanya melintas. Namun bagi saya, lapak kecil di seberang Gedung Matahari lama adalah surga bagi para pemburu bacaan. Di tengah hiruk-pikuk Kota Cilegon, di situlah saya menemukan banyak gagasan, mengenal berbagai penulis, dan diam-diam memupuk mimpi suatu hari nanti tulisan saya juga bisa terbit di surat kabar.

Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 2011, jauh sebelum pandemi Covid-19 mengubah banyak kebiasaan manusia.

Follow by Email
Instagram
Telegram
WhatsApp
FbMessenger
URL has been copied successfully!