Ketika masyarakat berhenti membeli buku cetak, penerbit mengurangi jumlah produksi. Percetakan kehilangan pesanan. Toko buku menutup cabang. Bahkan tidak sedikit pekerja di industri perbukuan yang akhirnya kehilangan mata pencaharian.
Semua saling berkaitan.
Lantas, kepada siapa kita harus menyalahkan keadaan?
Tidak ada jawaban yang sederhana.
Minat membaca masyarakat memang menjadi persoalan yang telah lama dibahas. Berbagai survei internasional, termasuk Programme for International Student Assessment (PISA), menunjukkan bahwa kemampuan membaca peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara maju. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan.
Ironisnya, Indonesia memiliki gedung Perpustakaan Nasional setinggi 27 lantai yang menjadi salah satu gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Bangunan megah itu menjadi simbol kebanggaan bangsa.
Namun pertanyaannya bukan lagi seberapa tinggi gedung perpustakaan yang kita miliki.
Melainkan, seberapa banyak masyarakat yang benar-benar datang untuk membaca.
