Namun tanpa sadar kami membaca setiap kata yang kami tulis.
Hari ini semuanya berubah.
Guru menyampaikan materi melalui proyektor.
Siswa cukup memotret layar menggunakan telepon genggam.
Sebagian bahkan hanya meminta file PowerPoint dikirim melalui WhatsApp.
Lalu selesai.
Tetapi, berapa banyak yang benar-benar membuka kembali file itu untuk dibaca?
Teknologi memang mempermudah proses belajar. Namun kemudahan itu seringkali membuat kita kehilangan proses yang sesungguhnya membentuk pemahaman.
Negara seperti Singapura menunjukkan bahwa budaya membaca tidak lahir begitu saja. Keberhasilan mereka tidak hanya ditentukan oleh kualitas sekolah, tetapi juga oleh komitmen pemerintah membangun ekosistem literasi.
Perpustakaan dirancang menjadi ruang publik yang nyaman, modern, dan mudah diakses. Banyak perpustakaan berada di pusat perbelanjaan maupun pusat komunitas sehingga masyarakat terbiasa menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekedar kewajiban akademik.
Indonesia tentu memiliki tantangan yang berbeda.
