Pemerintah setiap tahun menggelontorkan anggaran bagi program literasi melalui perpustakaan, taman baca, rumah baca, hingga berbagai festival literasi. Semua itu tentu patut diapresiasi.
Namun apabila budaya membaca tidak tumbuh dari kesadaran masyarakat sendiri, berbagai program tersebut hanya akan menjadi kegiatan seremonial yang kehilangan makna.
Hari ini, banyak siswa datang ke perpustakaan karena tugas.
Mahasiswa membaca buku karena skripsi.
Guru mencari referensi karena kewajiban administrasi.
Jarang sekali seseorang datang ke perpustakaan hanya karena ingin belajar.
Lebih jarang lagi membeli buku karena memang mencintai membaca.
Padahal, literasi bukan sekadar menyelesaikan tugas.
Literasi adalah kebiasaan berpikir.
Literasi adalah cara manusia memperluas cara pandangnya terhadap kehidupan.
Saya teringat suasana sekolah dahulu.
Guru menulis panjang di papan tulis menggunakan kapur. Debu kapur beterbangan ketika papan dihapus. Kami semua sibuk menyalin setiap kalimat ke buku catatan.
Memang melelahkan.
