Penjual lapak itu bernama Suryadi.
Senyumnya selalu mengembang setiap kali ada pembeli datang. Pada masa itu, masih banyak orang yang memulai pagi dengan membeli koran. Ada pegawai kantor, guru, mahasiswa, pedagang, hingga sopir angkutan yang singgah sejenak sebelum melanjutkan aktivitas. Lapak sederhana itu seolah menjadi titik temu kecil bagi orang-orang yang masih percaya bahwa kabar terbaik datang dari lembaran kertas, bukan dari layar telepon genggam.
Bagi saya, tempat itu memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Disanalah saya rutin membeli koran, baik koran lokal maupun nasional. Padahal uang yang saya miliki saat itu sering kali pas-pasan. Namun ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang, yaitu keinginan untuk terus belajar melalui membaca.
Yang saya cari bukanlah berita utama. Saya justru menikmati halaman opini, esai, feature, dan kolom-kolom pemikiran. Saya membaca setiap kalimat dengan saksama, memperhatikan bagaimana penulis merangkai ide menjadi tulisan yang enak dibaca. Dalam hati saya selalu berharap, suatu saat nanti saya pun mampu menulis seperti mereka. Apalagi saya mendengar bahwa tulisan yang dimuat di koran mendapat honor. Bagi penulis pemula, itu bukan sekadar soal uang, melainkan sebuah pengakuan bahwa tulisannya layak dibaca banyak orang.
