Sayangnya, hingga kini saya belum pernah bertemu langsung dengan penulis buku tersebut. Saya hanya menjadi salah seorang pembaca yang diam-diam mengagumi karya dan keberaniannya menulis tentang daerah sendiri.
Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa penulis lokal memiliki kualitas yang tidak kalah dengan penulis nasional. Karena itulah saya selalu berusaha membeli karya mereka. Jika bukan kita yang menghargai penulis daerah sendiri, lalu siapa lagi?
Namun saya juga sering bertanya dalam hati, mengapa banyak penulis lokal seolah berhenti di tempat. Bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena ruang untuk berkembang terasa begitu sempit. Setiap kali ada festival literasi atau seminar kepenulisan, yang diundang hampir selalu penulis-penulis besar dari luar daerah. Kehadiran mereka memang mampu menarik perhatian masyarakat. Akan tetapi, penulis lokal dan penulis pemula seringkali hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri.
Padahal, boleh jadi di sudut-sudut kota kecil seperti Cilegon, ada banyak penulis berbakat yang hanya menunggu kesempatan untuk dikenal lebih luas.
