Baru membaca lima menit sudah mengantuk. Baru menulis satu paragraf sudah merasa buntu. Ide yang tadi memenuhi kepala tiba-tiba hilang begitu saja. Padahal mimpinya ingin menerbitkan buku, dikenal sebagai penulis, atau menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.
Menulis memang seperti menyalakan api kecil di tengah hujan. Kalau tidak dijaga, ia mudah padam.
Karena itu, waktu, kesehatan, tenaga, teman, dan relasi yang kita miliki hari ini sangat berharga. Semua itu adalah modal untuk berkarya. Sebab hidup manusia tidak pernah benar-benar bisa ditebak. Saat melewati pemakaman, kita sadar bahwa orang-orang yang telah pergi juga pernah memiliki rencana, impian, dan harapan. Ada yang masih muda, ada yang sudah tua, bahkan ada yang belum sempat menikmati hidup lebih lama.
Mereka pun dulu pernah berkata, “Nanti saja.”
Namun ternyata waktu mereka habis lebih dulu.
Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai pengingat bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali. Selama masih diberi nafas, kesehatan, dan kesempatan belajar, jangan sia-siakan waktu untuk berkembang dan berkarya.
