Seandainya Saya Seorang Wartawan

Refleksi Literasi dan Pendidikan

Pernah terbesit dalam pikiran saya untuk bercita-cita menjadi wartawan atau jurnalis. Namun lebih dari sekadar profesi, dunia kewartawanan bagi saya adalah ruang belajar literasi yang membentuk cara berpikir, cara membaca realitas, dan cara menulis gagasan secara bertanggung jawab. Wartawan—yang bekerja secara profesional dan independen—memiliki peran penting sebagai kontrol sosial, sekaligus pendidik publik melalui informasi yang disampaikan.

Kesadaran literasi itu tumbuh sejak saya membiasakan diri membaca koran, baik lokal maupun nasional. Koran bukan sekadar penyampai berita, melainkan media pembelajaran yang hidup. Dari sana, saya belajar membaca cepat, memilah informasi penting, memahami sudut pandang, hingga membedakan fakta dan opini. Berbeda dengan buku yang kadang menuntut konsentrasi panjang, koran justru melatih konsistensi membaca harian—sebuah kebiasaan literasi yang sederhana namun berdampak.

Melalui berbagai rubrik di koran, saya menemukan pendidikan literasi yang utuh: ada pengetahuan, hiburan, nilai, dan pembentukan nalar kritis. Halaman esai dan opini mengajarkan saya bagaimana gagasan dirangkai dengan argumentasi yang logis dan bahasa yang terukur. Sementara tulisan feature menghadirkan fakta dalam bentuk cerita yang humanis—mendidik pembaca untuk berempati dan memahami realitas sosial secara lebih dalam. Sayangnya, tidak semua media memberi ruang cukup pada jenis tulisan edukatif seperti ini.

Potret Pilu di Lampu Merah Kota

ilustrasi gambar seorang ibu menggendonng balita dilampu
merah untuk mengemis (dibuat hasil ia)

Di tengah panas dan debu yang membubung, seorang ibu menggendong balitanya yang belum genap dua tahun. Bocah itu tertawa kecil, bercanda, seolah belum mengenal kerasnya dunia yang sedang ia masuki. Sang ibu berdiri di antara deru kendaraan, menunggu detik-detik ketika lampu merah menyala—saat di mana harapan untuk mendapatkan sesuap nasi muncul.

Dengan kotak kardus kecil, ia bernyanyi lirih. Terkadang ia berjalan berdampingan dengan manusia “silver” yang mematung tiga puluh detik demi selembar uang receh. Rutinitas itu ia ulangi puluhan—bahkan ratusan—kali setiap hari. Semua untuk makan. Semua untuk mempertahankan hidup.

Padahal ini terjadi di pusat kota, di bawah pandangan para pejabat, dinas sosial, dan pihak-pihak yang seharusnya peduli. Tetapi banyak yang justru memilih cuci tangan. Tak ada gebrakan yang benar-benar tepat sasaran. Bantuan untuk rakyat entah kemana, hilang entah di tikungan mana. Dari presiden ganti presiden, pejabat ganti pejabat, realitas ketidakadilan ini tak kunjung berubah.
Lalu sesungguhnya ini tanggung jawab siapa?

Follow by Email
Instagram
Telegram
WhatsApp
FbMessenger
URL has been copied successfully!