Seandainya Saya Seorang Wartawan

Refleksi Literasi dan Pendidikan

Pernah terbesit dalam pikiran saya untuk bercita-cita menjadi wartawan atau jurnalis. Namun lebih dari sekadar profesi, dunia kewartawanan bagi saya adalah ruang belajar literasi yang membentuk cara berpikir, cara membaca realitas, dan cara menulis gagasan secara bertanggung jawab. Wartawan—yang bekerja secara profesional dan independen—memiliki peran penting sebagai kontrol sosial, sekaligus pendidik publik melalui informasi yang disampaikan.

Kesadaran literasi itu tumbuh sejak saya membiasakan diri membaca koran, baik lokal maupun nasional. Koran bukan sekadar penyampai berita, melainkan media pembelajaran yang hidup. Dari sana, saya belajar membaca cepat, memilah informasi penting, memahami sudut pandang, hingga membedakan fakta dan opini. Berbeda dengan buku yang kadang menuntut konsentrasi panjang, koran justru melatih konsistensi membaca harian—sebuah kebiasaan literasi yang sederhana namun berdampak.

Melalui berbagai rubrik di koran, saya menemukan pendidikan literasi yang utuh: ada pengetahuan, hiburan, nilai, dan pembentukan nalar kritis. Halaman esai dan opini mengajarkan saya bagaimana gagasan dirangkai dengan argumentasi yang logis dan bahasa yang terukur. Sementara tulisan feature menghadirkan fakta dalam bentuk cerita yang humanis—mendidik pembaca untuk berempati dan memahami realitas sosial secara lebih dalam. Sayangnya, tidak semua media memberi ruang cukup pada jenis tulisan edukatif seperti ini.

Sempatkan Membaca, Meski Lima Menit Saja

Membagun kebiasaan postif amatlah tidak semudah membalikkan kedua tangan. Tetapi butuh konsistensi dan komitmen serta niat yang sungguh-sungguh. Salah satunya adalah membaca buku. Tak semua orang mau dan suka membaca buku. Walaupun buku adalah jendela dunia, begitu banyak manfaat membaca buku. Namun ada tips agar kita mau membangun kebiasaan positif dalam hidup kamu. Luangkan waktu hanya lima menit saja bila kamu tidak suka membaca buku.Tak perlu banyak waktu. Tetapi hanya lima menit saja yang diperlukan untuk membiasakan kebiasaan postif ini. Dapat dilakukan kapan saja.

Entah mau berangkat kerja, sekolah atau disela-sela waktu kapanpun. Dengan demikian kita sudah melakukan kebiasaan positif yang bermanfaat dan tak terasa akan menjadi kebiasaan yang dapat membangun wawasan, ilmu dan kualitas hidup kita menjadi lebih baik. Setelah kita lakukan lima menit saja, dijamin nanti akan terbiasa atau kecanduan dan membaca buku akan menjadi hal yang mengasikkan dan bermanfaat tentunya.Tidak akan merasa menjadi beban apalagi masalah. Boleh sesuka kita ingin membaca buku tentang apa saja.

Kamu Nanya?

Untuk memulai menulis banyak berbagai alasan dan kesulitan. Padahal keinginan untuk menjadi penulis sudah ada dari dulu atau telah lama tertanam dalam hati dan pikiran kita. Namun mengapa masih belum memulainya.

Mungkin salah satunya adalah merasa sulit mendapatkan sebuah ide atau gagasan. Bingung mau menulis apa. Jadinya hanya tinggal impian dan keinginan saja karya ya tak ada.Memang sebuah ide itu tidak datang dengan sendirinya, bagi seorang penulis yang telah ahli dan terbiasa pastilah tidak merasa seperti penulis pemula.

Karena apapun akan menjadi ide, gagasan dan bahan tulisan. Apapun yang dilihat, di dengar, dan dirasa pasti akan menambah ide-ide baru untuk dituliskan. Meskipun dalam hal sepele, dari objek yang orang lain tidak terpikirkan. Bagi seorang penulis pasti dapat menguraikan dan mendeskripsikan objek itu akan ditulisnya seperti apa dan menjadi apa. Telah terkonsep dan terangsang didalam pikirannya untuk cepat-cepat dituangkan dalam bentuk tulisan. Yang pastinya dalam sudut pandang yang berbeda dari yang lain.Begitulah bagi yang telah biasa dan ahli menulis.

Apa Tujuan Kita Menulis?

Salah satu dasar motivasi dan alasan kita mau menulis adalah sangat penting. Dimana dorongan dan tujuan tersebut yang akan membimbing kita dalam mencapai target kepenulisan.

Semangat menulis itu berawal dari alasan. Untuk apa kita menulis. Dan tentu berbagai macam alasan kita mau menulis. Bisa karena agar menjadi penulis terkenal, ingin mendapat cuan, ingin membuat karya populer, ingin menyampaikan informasi atau berbagi ilmu dan pengalaman, hanya melampiaskan hobi, terpaksa karena pekerjaan dan tuntutan, kewajiban, atau kalau saya sendiri adalah untuk menasehati diri saya sendiri. Memberikan inspirasi dan motivasi pada diri sendiri syukur-syukur bisa bermanfaat juga buat orang lain.
Ada pula yang bertujuan untuk berdakwah, beramal shalih. Tulisannya berisi tentang nasehat kebaikan. Ada pula yang bertujuan untuk memberikan solusi atau membedah problem yang viral dimasyarakat, sehingga tertanam pola pikir pengetahuan dan perubahan serta kebiasaan dimasyarakat.

“Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak”. – Ali bin Abi Thalib

Seandainya Aku Adalah Penulis Hebat

Membaca dan menulis adalah kegiatan yang amat penting. Sejak usia dini, kita mungkin pernah belajar dan diajarkan tentang huruf abjad, a,b,c, d dan seterusnya atau juga diajarkan tentang nomor 1,2,3 dan seterusnya. Baik oleh orang tua maupun guru kita di sekolah. Dulu saat kita masih kecil, tak perlu memahami atau harus mengerti karena memang sebatas itu yakni dapat membaca dan menulis saja sudah menjadi kebanggaan.

Terlebih kita akan mengerutkan kening saat mendengar jika ada yang masih buta huruf.Tetapi ketika telah dewasa, kita akan dituntut untuk memahami atau mengerti setiap apa yang kita tulis dan dibaca. Entah hanya mencari wawasan pengetahuan atau sedang mencari referensi mengerjakan tugas kuliah, atau membuat makalah. Berbicara tentang membaca dan menulis tak jauh dari pengembangan berbahasa dan mengenal angka.

Berarti hal demikian termasuk kegiatan literasi. Beberapa langkah telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun suadaya masyarakat bahkan gerakan literasi dari perorangan. Namun kadang upaya yang dilakukan kurang mengena sasaran dan jauh dari harapan. Misalnya bagaimana sirkulasi dan pengembangan perpustakaan baik yang ada disekolah di pemerintahan atau di Taman Baca Masyarakat (TBM).

Follow by Email
Instagram
Telegram
WhatsApp
FbMessenger
URL has been copied successfully!