Seandainya Saya Seorang Wartawan

Perkembangan teknologi kemudian menggeser media cetak ke arah digital. Koran mungkin tak lagi mendominasi, namun nilai literasi jurnalistik seharusnya tidak ikut tergeser. Media daring dan e-paper tetap membutuhkan pembaca yang kritis dan penulis yang bertanggung jawab. Di sinilah pendidikan literasi menjadi kunci, agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menyaring, memahami, dan memaknainya.

Ketertarikan saya pada jurnalistik mendorong saya mengikuti pelatihan dan kursus hingga sempat merasakan dunia wartawan secara langsung. Dari pengalaman itu, saya menyadari bahwa jurnalistik bukan semata soal menulis berita, tetapi tentang etika, disiplin verifikasi, dan tanggung jawab pendidikan kepada publik. Setiap tulisan adalah proses belajar—bagi penulisnya maupun bagi pembacanya.

Minat menulis saya sendiri telah tumbuh sejak SMA, saat aktif mengelola majalah dinding sekolah. Mading bagi saya adalah laboratorium literasi pertama. Di sanalah saya belajar berani menulis, bekerja dalam tim redaksi kecil, mengelola konten, dan menyajikan informasi yang layak dibaca warga sekolah. Pengalaman sederhana itu menanamkan kesadaran bahwa literasi tidak lahir secara instan, melainkan melalui praktik yang terus-menerus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow by Email
Instagram
Telegram
WhatsApp
FbMessenger
URL has been copied successfully!