Kesinambungan pengalaman tersebut membawa saya menjadi pembina jurnalistik di sekolah menengah dan pengelola perpustakaan. Ketiganya—mading, jurnalistik, dan perpustakaan—merupakan pilar penting pendidikan literasi di sekolah. Kegiatan jurnalistik sekolah bukan hanya melatih siswa menulis, tetapi juga mendokumentasikan kegiatan, menumbuhkan transparansi, serta membangun budaya berpikir kritis dan komunikatif. Meski belum semua sekolah memberi ruang, praktik ini sesungguhnya menyimpan potensi pendidikan karakter yang besar.
Walaupun saya tidak sepenuhnya berprofesi sebagai wartawan, nilai-nilai jurnalistik tetap saya rawat. Saya terus belajar melalui buku, tulisan, dan diskusi seputar literasi media. Saya percaya hidup ini adalah persinggahan, dan salah satu cara meninggalkan makna adalah melalui jejak kata dan tulisan. Hingga memberikan kesan terbaik yakni hidup produktif dengan konsisten membuat tulisan yang berkualitas dan menjadi sejarah dan kutipan sertarujukuan sumber bagi generasiyang akan datang.
